Ubah Limbah Jadi Berkah, Tim KKN UNS 163 Olah Minyak Jelantah menjadi Lilin Aromaterapi bersama Pengurus Bank Sampah Desa Karangrejo
Jum’at, 31 Juli 2026 -- Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 163 Universitas Sebelas Maret melaksanakan program kerja “Pengolahan Limbah Minyak Jelantah menjadi Lilin Aromaterapi” di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur. Kegiatan ini digagas sebagai upaya mengatasi persoalan limbah minyak jelantah rumah tangga yang selama ini kerap dibuang sembarangan dan berisiko mencemari tanah serta sumber air warga. Program ini sejalan dengan SDGs Tujuan 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, sekaligus SDGs Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, mengingat produk lilin yang dihasilkan berpotensi dikembangkan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
Minyak jelantah umumnya hanya dibuang begitu saja oleh rumah tangga, baik melalui saluran pembuangan air maupun langsung ke tanah. Kebiasaan tersebut berpotensi mencemari tanah dan sumber air di sekitar permukiman. Kegiatan yang dilaksanakan berupa pelatihan dan demo langsung bertempat di Balai Desa Karangrejo. Sasaran pelatihan adalah para pengurus Bank Sampah dari enam dusun di Desa Karangrejo, dengan masing-masing dusun mengirimkan lima hingga delapan orang perwakilan.
Pelatihan dibagi menjadi dua tahap utama. Tahap pertama berfokus pada proses penjernihan minyak jelantah, yang dijelaskan berlangsung sekitar dua hari sebelum minyak siap diolah menjadi lilin. Prosesnya diawali dengan penyaringan kotoran kasar dari minyak menggunakan kain atau saringan, dilanjutkan dengan perendaman bersama arang aktif selama 24 jam untuk menyerap bau dan zat pengotor. Setelah disaring kembali, minyak dipanaskan bersama bleaching earth untuk menghilangkan warna gelap, kemudian didiamkan selama 24 jam hingga kotoran mengendap sempurna di dasar wadah. Bagian minyak yang jernih di lapisan atas itulah yang kemudian disaring sekali lagi dan siap digunakan sebagai bahan baku lilin.


Tahap kedua adalah proses pembuatan lilin itu sendiri. Minyak jelantah yang telah dijernihkan dilelehkan bersama palm wax dan stearic acid dengan api kecil hingga tercampur rata. Setelah api dimatikan, campuran diberi pewarna lilin hingga warna merata, lalu dibiarkan agak dingin sebelum ditambahkan essential oil agar aromanya tidak hilang akibat suhu yang masih panas. Adonan lilin kemudian dituang perlahan ke cetakan yang sudah dipasangi sumbu tegak lurus, dan didiamkan pada suhu ruang selama 4-6 jam hingga mengeras dan siap dilepas dari cetakan. Peserta juga diajarkan sejumlah hal yang perlu dihindari agar lilin tidak gagal, seperti tidak memasukkan essential oil saat campuran masih panas, tidak menyimpan lilin di kulkas karena berisiko retak, dan memastikan posisi sumbu tidak miring agar lilin dapat menyala merata.


Selama pelatihan, tim KKN 163 UNS juga membagikan leaflet berisi panduan lengkap formulasi bahan dan langkah-langkah pembuatan, sehingga peserta dapat mempraktikkannya kembali secara mandiri di rumah maupun di kelompok Bank Sampah masing-masing dusun. Sebagai tindak lanjut, lilin aromaterapi hasil olahan minyak jelantah ini direncanakan akan dikembangkan menjadi produk UMKM desa yang dikelola oleh Bank Sampah di masing-masing dusun. Dengan begitu, kegiatan pengelolaan limbah rumah tangga tidak hanya berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomis dan menjadi sumber pemasukan tambahan bagi kelompok Bank Sampah maupun warga yang terlibat.
Melalui program ini, Tim KKN 163 UNS berharap pengurus Bank Sampah dan warga Desa Karangrejo dapat lebih memahami cara memanfaatkan limbah minyak jelantah menjadi produk lilin aromaterapi yang memiliki nilai jual. Selain mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah sembarangan, program ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih kreatif dan bernilai ekonomis.
Editor: Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret